Rabu, 28 September 2016

Cara Menerbitkan Novel: Menulis Novel Pun Butuh Riset

Cara Menerbitkan Novel: Menulis Novel Pun Butuh Riset

cara menerbitkan novel

Cara menerbitkan novel yang berkualitas pastinya berdasarkan pada pengalaman riset yang kuat oleh penulisnya.


Cara menerbitkan novel
ada beberapa tahap. Namun yang bisa saja dilupakan adalah tahap untuk riset. Sebagaimana cara menulis karya ilmiah, cara menerbitkan novel pun perlu dilakukan riset sebelum dilakukan penulisan dan penerbitan di penerbit buku. Jika riset kurang, maka pengetahuan penulis novel untuk menulis novel dan melakukan cara menerbitkan novel akan terbatas. Misalnya, seseorang yang kehidupannya jauh dari lingkungan nelayan, ia akan kesulitan mengeksplor kisah nelayan untuk novelnya. Maka dari itulah, riset perlu dimasukkan ke tahap awal dalam cara menerbitkan novel.

"Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori dan hukum serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subyek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah "menyelidiki secara tuntas"." - wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Riset dalam cara menerbitkan novel seperti apa yang dilakukan, tergantung dengan kebutuhan novel yang akan Anda buat dan yang disukai penerbit buku. Anda bisa datang dan melakukan pengamatan di tempat-tempat yang tepat dan ngobrol dengan orang yang tepat. Dengan cara ini, novelis tidak akan mati gaya lagi, tidak akan terlalu lama berhenti pada suatu jeda stagnasi. Dan dengan metode ini juga, tentu novel yang kita bangun akan jauh lebih hidup, lebih nyata. Pada akhirnya seorang novelis akan tumbuh bersama masalah-masalahnya yang ditemui di sepanjang perjalanan penulisan. Masalah-masalah yang menunjukkan padanya pada kebutuhan-kebutuhannya, yang pada gilirannya mengantarkannya pada jawaban-jawaban.


Sebagaimana yang dijelaskan Yuliarti (2009), novel yang bagus dilahirkan dari riset. Apa saja yang perlu diperhatikan pada riset pada cara menerbitkan novel di penerbit buku ini? Ada tiga hal yang bisa diperhatikan, pertama, mengenai topik karangan; kedua, di luar topuk karangan; ketiga, dari coret-coretan. Mengenai topik karangan, ini tentang seberapa jauh Anda mengenal topik karangannya. Apa ada unsur kisah hidupnya dalam karangan Anda? Kalau ada berarti lebih mudah untuk memberi gambaran yang hidup. Kalau tidak, maka Anda perlu cari tahu sebanyak mungkin dari referensi bacaan maupun dari wawancara dengan orang yang tahu. Lalu mengenai di luar topik karangan, ini terkait berapa banyak buku yang sudah Anda baca. Anda perlu membaca sebanyak mungkin bahan, baik itu novel, nonfiksi, self-help, majalah, dan koran. Bacaan yang kaya, meskipun bacaan itu tidak menyinggung topik karangan Anda secara langsung, akan memberi warna pada karangan.


Terakhir mengenai coret-coretan. Dengan membuat coretan-coretan terlebih dahulu, Anda bisa menemukan gaya bahasa Anda sendiri. Anda bisa melakukannya pada kertas. Biarpun tidak membuat alur yang terlalu saklek seperti pelajaran Bahasa Indonesia, Anda tetap perlu membuat coret-coretan.
Demikian artikel berjudul Cara Menerbitkan Novel: Menulis Novel Pun Butuh Riset. Semoga bermanfaat.

[BN]

Sumber:



  1.       Arimbi Bimoseno. Seni Menulis: Novel Mati Gaya. <kompasiana.com>.  
  2.   2  Yuliarti, Nurheti. 2009. Menjadi Penulis Profesional: Kiat Jitu Menembus Media Massa dan Penerbitan. Yogyakarta: Medpress.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar